Foto : Saat Warga Dusun Batik Desa Gondowido, Mengolah Tiwul, Senin (14/9/2026).
PONOROGO I gondowido.id – Tiwul selama ini identik dengan makanan tradisional masyarakat pedesaan. Namun, di tangan warga Desa Gondowido, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, pangan berbahan dasar singkong tersebut mulai naik kelas menjadi produk kuliner modern yang memiliki nilai ekonomi dan peluang pasar lebih luas.
Kreativitas masyarakat, khususnya warga Dusun Batik, Desa Gondowido, mendorong tiwul tidak lagi sekadar menjadi makanan tradisional atau alternatif pengganti nasi. Tiwul dikembangkan menjadi produk siap konsumsi yang lebih praktis, higienis, tahan lama, sekaligus memiliki tampilan yang mampu bersaing dengan produk pangan modern.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah tiwul instan. Melalui proses pengolahan dan pengeringan, tiwul dapat disimpan dalam waktu relatif lama. Konsumen tidak perlu melalui proses pengolahan yang panjang karena cukup mengukus atau menyiramnya dengan air panas sebelum disajikan.
Inovasi tersebut menjadi penting karena membuka peluang baru bagi masyarakat desa untuk mengubah bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk bernilai tambah.
Dari sisi pemasaran, perubahan juga terlihat pada kemasan. Produk tiwul yang sebelumnya identik dengan makanan rumahan kini dapat dikemas secara lebih modern, higienis, kedap udara maupun menggunakan sistem vacuum packaging. Dengan kemasan yang menarik, produk menjadi lebih mudah dipasarkan sebagai oleh-oleh khas daerah dan berpeluang menjangkau konsumen di luar Ponorogo.
Kepala Desa Gondowido, Baskoro Widha Mandala, menyatakan dukungannya terhadap kreativitas dan inisiatif warganya dalam mengembangkan potensi pangan lokal.
Menurutnya, pemberdayaan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Potensi yang sudah ada di lingkungan masyarakat justru dapat menjadi modal penting apabila dikelola secara kreatif, konsisten dan memiliki orientasi pasar.
Dukungan pemerintah desa, kata Baskoro, diarahkan agar kreativitas masyarakat tidak berhenti sebatas produksi rumahan. Produk lokal harus terus didorong agar memiliki kualitas, kemasan, pemasaran dan daya saing yang lebih baik.
"Potensi masyarakat harus kita dukung. Jangan sampai bahan pangan lokal hanya dikonsumsi sendiri, tetapi bagaimana bisa diolah menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat," ujar Baskoro.
Pengembangan tiwul juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi desa. Ketika bahan baku berasal dari lingkungan sekitar dan proses produksinya melibatkan masyarakat, maka nilai ekonomi dapat berputar lebih banyak di tingkat lokal.
Bagi warga, kegiatan tersebut bukan sekadar mempertahankan makanan tradisional. Ada peluang untuk menciptakan lapangan usaha baru, meningkatkan pendapatan keluarga, sekaligus menjaga keberadaan pangan lokal agar tidak tergerus perubahan zaman.
Terlebih, singkong sebagai bahan baku tiwul memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dengan sentuhan inovasi, pangan tradisional tersebut dapat diposisikan bukan sebagai simbol keterbatasan, melainkan sebagai produk kreatif yang memiliki identitas, cerita dan nilai jual.
Ke depan, penguatan kualitas produksi, standardisasi kemasan, perizinan usaha pangan, pemasaran digital, serta pengembangan jaringan pasar menjadi sejumlah langkah yang dapat dilakukan secara bertahap.
Jika ekosistem tersebut dibangun bersama, tiwul bukan tidak mungkin menjadi salah satu produk unggulan masyarakat Gondowido yang mampu keluar dari pasar lokal.
Dari pangan tradisional menjadi produk ekonomi kreatif, dari dapur warga menjadi peluang usaha desa. Inilah wajah baru pemberdayaan masyarakat ketika potensi lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diberi nilai tambah untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
Reporter : Media Center.